KENALI SEJARAH LEWAT MAKAM ULAMA

Oleh:M.Ibnu Darmairah

Foto bangunan pusat makam Syeikh Abdurohman dan Syeikh Abdurohim

Tegal merupakan Kabupaten yang memiliki banyak sejarah dalam perkembangan islam, salah satu buktinya adalah dengan adanya makam para ulama maupun keturunan kerajaan mataram seperti Ki Amangkurat (Pesarean) dan Pangeran Puroboyo (Kalisoka). Bukti lainnya adalah dengan adanya adat kebisaan setempat yang sudah turun temurun.Seperti di desa Kedungsukun dan sekitarnyta, terutama desa Pagiyanten. Mereka memiliki tradisi ziarah kubur kemakam para ulama yaitu Syeikh Abdurokhman dan Syeikh Abdurohim atau biasa dikenal dengan sebutan Kliwonan. Kliwonan ini berawal dari duka para santri atas wafatnya Syeikh.

Sebelum sang Syeikh memiliki santri dan sebelum diangkat menjadi Kyai, Syeikh Abdurohman dan Syeikh Abdurohim adalah seorang pedagang yang berasal dari Baghdad ibu kota Irak yang datang ke Tegal, mereka memisahkan diri masing-masing dengan tujuan agar mendapatkan keuntungan lebih besar. Desa Pagiyanten yang menjadi pilhan Syeikh Abdurohman untuk singgah sementara. Setelah beberapa hari singgah, ia merasa miris melihat kebiasaan masyarakat setempat yang melenceng dari adab manusia dan agama. Akhirnya sang Syeikh mengajak masyarakat untuk mengenal agama islam sedikit demi sedikit. Dengan kegigihannya, akhirnya sebagian masyarakat yang mulai memeluk agam Islam.

Suatu hari di kala Syeikh Abdurohman sedang berdakwah, sang adik yaitu Syeikh Abdurohim datang dengan beberapa santrinya yang cukup banyak. Karena mereka sudah memiliki santri, mereka pun memutuskan untuk membangun suatu pondok pesantren di kediaman Syeikh Abdurohman dan sebuah masjid yang sekarang bernama Masjid Sa’adatudaroen (Suro-Pagiyanten).

Namun pada saat itu santri Syeikh Abdurohman dengan santri Syeikh Abdurohim belum begitu menyatu, akhirnya sang Syeikh berfikir untuk mengadakan tradisi baru demi mempererat tali silaturahmi antar santri, sehingga tercetuslah tradisi Tekwinan (8 Maulid), tradisi ini dilaksanakan dengan cara saling membagikan jajanan lokal berwadahkan layah dari tanah liat. Cara ini berhasil membuat para santri menyatu. Mereka wafat pada awal abad ke-15 dan dimakamkan di kediaman Syeikh Abdurohman atau yang sekarang dikenal dengan sebutan candi suro. Hingga saat ini semua peninggalan sang Syeikh dari mulai Ilmu, Tradisi, atau berupa benda pribadi sang Syeikh masih dijaga dan dirawat dengan baik.

BUKU : “ENSIKLOPEDI ISLAM NUSANTARA”

Tinggalkan komentar